Cerpen Karya: Efrinaldi

“Bulan depan kamu berangkat ke Shanghai untuk pelatihan singkat,” kata Pak Direktur ketika aku datang menghadapnya di kantor pusat di Jakarta.
“Siap, Pak!” jawabku dengan tangkas.
“Ini surat dinas luar negerinya,” ujar Pak Direktur sambil menyodorkan amplop surat.
Aku buka suratnya dengan berdebar-debar. Tertulis tugas belajar ke Shanghai selama enam hari. dengan acara coating school dan mengunjungi pameran bahan baku farmasi. Inilah pertama kali aku ke luar negeri sehingga terasa sangat istimewa.
“Manfaatkan kesempatan ini untuk menimba ilmu dan terapkan di perusahaan sepulang pelatihan ini. Ada satu hari untuk city tour yang bisa dimanfaatkan buat bersenang-senang,” jelas Pak Direktur.
“Baik, Pak. Saya akan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya,” jawabku.
“Mulai besok uruslah segala sesuatu yang perlu dipersiapkan untuk berangkat,” kata Pak Direktur sambil berdiri dan menyalamiku. Aku menyambut uluran tangan beliau. Dengan sikap hormat, aku mohon diri untuk kembali ke Bandung, tempatku bertugas sehari-hari.
Tidaklah sulit mengurus visa ke Cina. Aku berangkat bersama-sama dengan empat orang dari perusahaan farmasi lain untuk tujuan yang sama. Tiket dan hotel kami diatur pemesanannya oleh petugas event organizer.
***
Pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Pudong Shanghai ketika malam telah tiba. Kami turun dari pesawat. Terlihat bandar udara besar di Shanghai itu sangat benderang. Setelah mengambil bagasi dan melewati loket imigrasi, kami ke luar bandara.
Kami bertemu petugas dari event organizer di pintu keluar. Setelah berkenalan dan berbasa basi sebentar kami menuju bus yang membawa kami ke pusat kota Shanghai.
Shanghai, aku datang! teriakku dalam hati ketika memasuki kota Shanghai, kota yang menghabiskan banyak dana untuk penerangan kota. Kota ini terlihat indah di malam hari. Kami akhirnya tiba di hotel bintang empat di jantung kota Shanghai, tempat kami menginap.
Kami masuk ke lobby hotel. Petugas yang menjemput kami melakukan check in. Sebentar saja kami menunggu, kak sudah mendapatkan kunci kamar masing-masing. Petugas memberi tahu kami kalau kami akan dijemput ke hotel jam tujuh pagi.
Aku masuk kamar hotel, membuka koper dan mengeluarkan baju dan celana untuk digantung di lemari.
Aku mandi dengan air hangat. Mengganti pakaian dengan kaos berbahan katun. Aku ingat kalau aku belum salat magrib dan isya. Aku berwuduk. Ketja hendak membentangkan sajadah, aku bingung tidak tahu arah kiblat.
Aku berpikir dan mendapat akal membuka Google Maps. Aku perhatikan arah bangunan dan menyesuaikan posisi handphone agar arah peta sesuai arah bangunan. Akhirnya aku bisa menentukan arah kiblat yaitu arah kota Mekah yang ditunjukkan peta di handphone.
Selesai salat, aku menyalakan televisi dan membuat kopi. Sambil menonton televisi, aku mengunyah roti yang kubawa dari Jakarta. Tak lama kemudian aku berbaring di tempat tidur. Alhamdulillah, aku telah sampai dengan selamat di Shanghai, kataku dalam hati.
***
Selesai sarapan pagi di restoran hotel aku mengenakan pakaian rapi, memakai kemeja lengan panjang dan celana formal. Aku menuju lobby hotel. Telah ada teman-teman sesama dari Jakarta menunggu jemputan. Tak lama kemudian datanglah petugas yang akan membawa kami ke tempat pelatihan.
Setelah berkendara selama tiga puluh menit, kami memasuki kawasan industri. Kami masuk sebuah bangunan cukup megah, suatu pabrik farmasi. Di sanalah pelatihan diadakan Kami menempati ruang cukup besar untuk empat puluh orang peserta yang berasal dari berbagai negara di Asia.
Pelatihnya adalah orang kulit putih, orang India, orang Cina dan orang Indonesia. Mereka adalah para praktisi di perusahaan farmasi atau akademisi. Setelah makan siang, kami melakukan tour pabrik. Kuperhatikan peralatan dan teknologinya hampir sama dengan pabrik tempatku bekerja.
Hari keempat kami mengunjungi pameran internasional bahan baku farmasi. Dipamerkan bahan baku farmasi dari seluruh belahan dunia. Aku menjelajahi hampir semua stand pameran, untuk melihat perkembangan terakhir bahan baku farmasi yang tersedia di pasar bebas dunia. Aku mengumpulkan brosur-brosur yang menurutku penting dibawa pulang.
Hari kelima adalah acara city tour. Kami mengunjungi Yu Yuan Garden. Di kawasan ini ada bangunan tradisional Tiongkok, menjadi tempat favorit orang berfoto-foto. Aku pun berfoto ria dengan pemandu wisata, seorang wanita cantik, berambut pendek berwajah molek khas gadis Cina.
Ada banyak toko pakaian, tas, sepatu dan cenderamata dengan harga murah di sana. Aku membeli dasi, tas buat istriku, jaket buat putriku, kaos bertulisan Shanghai buatku dan putraku serta sejumlah cendera mata buat teman-teman di tanah air.
Di sana ada bangunan bangsawan Cina zaman dulu yang kini jadi museum milik pemerintah. Dari kondisi bangunan ini, terlihat jelas bahwa dulu pernah hidup kaum tuan tanah kaya raya di negeri Cina. Revolusi komunisme membuat tuan tanah harus kehilangan hak miliknya, tanah jadi milik negara.
Ketika mengunjungi rumah produksi sutera, pemandu wisata menjelaskan bahwa dulu dimiliki perorangan, tetapi kemudian pemerintah membelinya dari pemilik awal, sehingga kini milik pemerintah.
Perjalanan berlanjut ke tengah kota di tepian sungai. Pemandu wisata menjelaskan bahwa kawasan di seberang sungai adalah kawasan Shanghai modern. Berdiri banyak bangunan pencakar langit, tempat berkantornya perusahaan raksasa milik RRC maupun milik asing. Sementara kawasan di sebelah kami berdiri adalah kawasan tradisional, tempat dipertahankan bangunan lama.
Kami pergi ke museum Shanghai. Aku melihat berbagai barang peninggalan budaya Cina masa lalu. Diperagakan dapur tradisional Cina, mirip dapur masyarakat Indonesia terutama tungkunya.
Ada penggambaran suasana pedesaan Cina dengan jembatan beton di atas sungai, dan wanita yang duduk di rumah sederhana. Aku mengajak Lam My Linh, farmasis Vietnam, berfoto di bangku di depan sebuah rumah.
Ada juga gambaran sebuah kantor sebuah perusahaan asing. Digambarkan dengan film suasana dalam kantor dari jendelanya. Seorang lelaki kulit putih duduk di meja kerja besar, sementara seorang karyawati berwajah oriental bersamanya layaknya seorang bos dengan sekretarisnya. Pemandangan ini mengingatkanku akan keinginanku dulu ketika masih bujangan, jadi bos besar yang punya sekretaris wanita cantik.
Kami memasuki ruangan menggambarkan suasana perang. Audionya sangat kuat menggambarkan suasana perang dengan desingan peluru dan pekik kematian.
Yang membuat miris adalah penggambaran penikmat candu, badan kurus kering, mengisap candu dengan pipa panjang.
Kami ke luar museum. Selanjutnya pergi untuk naik Menara Oriental Pearl. Berdesak- desakan dengan orang ramai, aku sadar bahwa banyak juga warga Cina yang berpenampilan kumuh. Ketika berdesakan antri naik menara, aku mencium bau badan yang menyengat hidung. Akhirnya aku sampai juga di puncak menara. Berdiri di atas lantai kaca di ketinggian, aku merasa gamang. Aku menyaksikan pemandangan kota metropolitan Shanghai yang dipenuhi bangunan.
Hari telah sore. Kami pun pulang ke hotel.
***
Malamnya kami makan di restoran masakan Cina di restoran tengah kota. Aku makan ikan dan sayuran saja. Setelah makan ada hidangan makanan penutup aneka kue. Teh dihidangkan dalam teko kaca bening. Terasa nikmat sekali minum teh dengan cangkir.
Usai makan malam, kami menuju sungai Huang Pu. Kami berlayar menyusuri sungai yang membelah kota. Di satu sisi sungai terlihat berkilauan cahaya dari gedung bertingkat tinggi dan di sisi lainnya terlihat bangunan sederhana namun tetap terang benderang. Pelayaran dengan kapal wisata ini ini hanya sekitar empat puluh lima menit pulang pergi. Kami kembali berlabuh di dermaga awal. Kami pun pulang ke hotel.
Aku tiba di hotel jam sebelas malam. Aku memeriksa lagi barang-barang yang telah kumasukkan ke dalam koper sore tadi. Koper yang dulu kosong dari Jakarta kini terisi penuh. Aku pun berbaring setelah salat. Puas hatiku menikmati petualangan selama lima hari di Shanghai. Besok aku akan kembali ke tanah air dengan sejumlah ilmu, pengalaman dan semangat baru.
Sewaktu makan pagi, aku duduk dengan peserta berkebangsaan Filipina. Namanya Ronald. Wajahnya mirip dengan wajah orang Indonesia. Memang benarlah orang Filipina termasuk rumpun Melayu juga.
Namun berbeda dengan Melayu yang ada di Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei yang kebanyakan beragama Islam, sementara orang Filipina kebanyakan beragama Katolik. Ronald santai bawaannya. Kami bercerita tentang pabrik farmasi di negara kami masing-masing.
Tiba- tiba bergabung dengan kami Hasan dan Fauziah, keduanya dari Malaysia. Fauzah terlihat anggun dengan busana muslimahnya.
“Aku agak was-was soal makan selama di Shanghai. Sulit dipastikan apakah halal,” kata Fauziah padaku.
“Aku juga begitu,” balasku sambil memakan roti di hadapanku.
Kulihat Fauziah dan Hasan juga makan roti saja dan minum jus jeruk.
Ronald sepertinya paham apa yang kami bicarakan.
“Oh, I see! You are muslim. You can not eat pork. Should I move from here because I am eating pork?” ujar Ronald dengan bawaan ragu-ragu.
“It’s no problem!” jawab kami serentak.
Pembicaraan kemudian soal jaminan hari tua. Teman Malaysia menerangkan bahwa tabungan jaminan hari tua telah berjalan efektif di Malaysia. Setiap warga Malaysia wajib menjadi peserta tabungan hari tua.
“Orang seperti Anda yang seorang farmasis, berapa kira-kira tabungan hari tua diterima di usia pensiun?” tanyaku penasaran.
“Sekitar 500.000 ringgit,” jawab Hasan.
Aku hitung-hitung, ya … semilyar lebih sedikit dalam rupiah.
Kami pun selesai sarapan pagi. Kami berpisah di restoran untuk kembali ke kamar masing- masing.
Tibalah waktunya kembali ke tanah air. Aku menumpangi pesawat dengan transit di Bandar Udara Internasional Changi Singapura untuk selanjutnya melanjutkan penerbangan ke Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta Cengkareng. Setelah mendarat, aku melanjutkan perjalanan dengan bus travel ke Bandung. Aku sampai di Bandung jam sepuluh malam.
Istriku membukakan pintu. Aku memeluk istriku di depan pintu. Kami masuk ke dalam rumah. Kepulanganku membuat kedua anakku terbangun. Mereka berhamburan hendak memelukku. Aku membuka koper, mengeluarkan oleh-oleh buat mereka. Istriku terlihat sangat menyukai tas berwarna merah menyala untuknya. Bella mencoba jaket.
“Papa, jaket ini mirip sekali dengan yang dipakai artis Korea,” seru Bella.
Jaket itu berupa jas dengan panjang hampir selutut, berwarna coklat muda dan mengesankan mode oriental. Faiz juga terlihat riang dengan kaos yang kubelikan. Aku bersyukur kembali berkumpul dengan keluarga setelah seminggu meninggalkan rumah untuk pergi ke negeri orang.@








