Head NewsHumaniora

Dahri Dahlan: Puisi Tanda Peradaban yang Tak Akan Mati

Dahri Dahlan, Dosen muda Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dari Universitas Mulawarman. (Foto Lydia Apriliani/UpdateKaltim.com)

Samarinda, UpdateKaltim.com – Menulis puisi atau sastra adalah salah satu cara seseorang mengekspresikan dirinya, menggali perasaan terdalam, dan mengungkapkan pikiran yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa.

Puisi memberikan ruang bagi individu untuk berkomunikasi dengan dunia, menghadirkan keindahan melalui kata, dan menciptakan hubungan emosional yang mendalam dengan pembaca.

Hal tersebut disampaikan langsung Dahri Dahlan, seorang penyair sekaligus akademisi Universitas Mulawarman, dalam acara peluncuran buku ‘Tiada Jembatan yang Tak Luka’ dan ‘Buat Apa Rindu Tak Terjemahkan’, hari Minggu (26/1/2025) di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kaltim jalan Ir Juanda, Samarinda.

Kata Dahri Dahlan, puisi bukan hanya sekadar tulisan semata, tetapi bentuk dari sebuah seni yang menciptakan pengalaman emosional mendalam. Puisi mampu menggambarkan peristiwa sederhana namun penuh makna, yang disebutnya sebagai “peristiwa puitik.”

“Puisi itu unik. Ada kebenaran yang tidak bisa disampaikan dengan cara lain selain melalui puisi,” ujarnya

Seseorang yang mengutarakan perasaannya dengan merangkai dan menyusun bait demi bait, yang kemudian menjadi sebuah kalimat indah, kata Dahri Dahlan, tentu memiliki nilai rekreatif yang bisa menyamai pengalaman “healing” penyair tersebut.

“Saat kita membaca puisi, ada rasa yang tidak dapat diutarakan, ada rasa menyenangkan yang timbul di hati ini. Sama seperti ketika kita melihat ombak di pantai, menulis dan membaca puisi menawarkan perasaan damai yang mirip dengan itu,” jelasnya.

Jadi menurut pria kelahiran Mandar, Sulawesi Barat tersebut, alasan puisi atau sastra masih digemari banyak orang hingga saat ini, karena menulis puisi menjadi salah satu “healing terbaik” bagi sebagian individu.

“Kenapa sih orang-orang masih mau ke pantai lihat ombak segala macam, itu sama seperti ketika ada yang bertanya: kenapa masih ada orang-orang yang mau menulis dan membaca puisi,” terangnya.

Dosen muda Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dari Universitas Mulawarman ini percaya bahwa kehadiran puisi adalah salah satu wujud nyata peradaban manusia yang tak terelakkan, telah ada sejak zaman dahulu. Mulai dari mantra-mantra hingga menjadi bentuk sastra seperti sekarang.

“Bentuk pertama dari sastra itu adalah mantra, dan puisi itu sudah ada sejak sejarah manusia dimulai. Maka sampai dunia kiamat pun orang-orang masih akan menulis puisi. Selama kita masih menulis puisi maka itu menandakan bahwa manusia masih berperadaban, kita menjaga peradaban manusia,” terangnya.

Dahri Dahlan pun mengajak semua orang untuk mulai membaca atau menulis puisi sebagai bentuk apresiasi terhadap seni dan kehidupan, serta menjaga peradaban manusia.

“Puisi bukan hanya tentang kata-kata indah, tetapi juga tentang jiwa. Dengan menulis atau membaca puisi, kita merasakan keindahan yang hanya bisa ditemukan dalam bahasa,” pungkasnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts