Penulis: Zulkifli | Editor: Intoniswan | Adv Diskominfo Kukar

Tenggarong.UpdateKaltim.com – Pembangunan hatchery udang di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), ditargetkan berlanjut pada 2027 setelah tertunda akibat efisiensi anggaran. Fasilitas pembenihan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan benur bagi pembudidaya sekaligus membuka peluang penambahan pendapatan asli daerah (PAD).
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, menjelaskan pembangunan hatchery yang dimulai sejak 2023-2024 itu baru mencapai sekitar 35 persen. Proyek tersebut belum berlanjut pada 2025 dan 2026 karena keterbatasan anggaran.
“Kalau menurut master plan yang kita rencanakan, total kebutuhan anggarannya kurang lebih Rp39,5 miliar. Sampai 2025, anggaran yang sudah dikeluarkan Rp15,8 miliar, sehingga masih kurang sekitar Rp23,7 miliar,” jelas Muslik kepada media ini, Senin (12/10/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah pekerjaan awal telah dilakukan, termasuk pembangunan beberapa bagian bangunan dan betonisasi. Namun, fasilitas pendukung seperti instalasi air dan listrik, gedung perkantoran, rumah jaga, rumah karyawan, bak penampungan air, serta pagar keliling masih perlu diselesaikan.
Untuk menuntaskan pembangunan, DKP Kukar berharap alokasi anggaran kembali tersedia pada 2027. Pemerintah daerah juga membahas opsi pembiayaan melalui skema tahun jamak atau multiyears agar kebutuhan anggaran dapat dipenuhi secara bertahap.
“Yang jelas kita berharap bahwa hatchery ini nantinya bisa berfungsi dengan baik sesuai dengan target kita,” ucapnya.
Muslik menegaskan, penyelesaian fasilitas dasar menjadi prioritas agar hatchery dapat segera difungsikan. Termasuk instalasi air dan listrik menjadi bagian penting untuk mendukung operasional, sementara pembangunan pagar diperlukan untuk menunjang keamanan kawasan.
“Tinggal instalasi air dan instalasi listrik. Itu sebenarnya sudah bisa jalan. Tetapi untuk keamanan, pagar harus kita bangun terlebih dahulu,” ujarnya.
Dari sisi kapasitas, hatchery Muara Badak dirancang mampu memproduksi sekitar sekitar 180 juta hingga 200 juta ekor benur. Produksi tersebut diharapkan dapat memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan benur di Kukar dan mendukung peningkatan hasil budidaya udang.
“Target produksi paling tidak bisa mencapai 200 juta ekor, Kalau tepatnya sekitar 180 juta ekor. Dari jumlah tersebut, diperkirakan bisa menghasilkan sekitar 65 juta ekor udang setelah dibudidayakan dan memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan kita,” jelasnya.
Muslik menyebutkan, produksi benur dalam jumlah besar diharapkan dapat mendukung pengembangan budidaya udang di Kukar. Dengan demikian, keberadaan hatchery tidak hanya menunjang kebutuhan pembudidaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.
“Produksi tersebut diharapkan membantu memenuhi kebutuhan benih udang bagi pembudidaya di Kukar sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah,” tandasnya.
Sementara itu, Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, memastikan pembangunan hatchery udang tersebut akan dilanjutkan pada 2027. Ia menyebut efisiensi anggaran menjadi alasan proyek itu belum dapat dilanjutkan tahun ini.
“Karena efisiensi, batal. Jadi, tahun depan kita lanjutkan,” kata Aulia di Tenggarong, Jumat (9/10/2026).
Aulia menegaskan, pemerintah daerah akan mengupayakan kelanjutan pembangunan agar fasilitas tersebut dapat segera beroperasi sesuai perencanaan. Selain memenuhi kebutuhan benur bagi sektor perikanan, hatchery juga diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pendapatan daerah apabila dikelola secara optimal. (*)












