Head NewsHumaniora

Tahun 2024 Angka Kematian karena HIV/AIDS 132 Kasus, Terbanyak di Samarinda dan Balikpapan

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) DR. dr. Jaya Mualimin. (Foto Diskominfo Kaltim)

Samarinda, UpdateKaltim.com – Kalimantan Timur (Kaltim) tidak masuk dalam daftar 11 provinsi  dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Indonesia, seperti DKI Jakarta maupun Jawa Timur, namun  kasus HIV/AIDS di daerah ini tetap menjadi perhatian serius semua pihak, karena angkanya terus tumbuh dan di tahun 2024 kasus HIV baru 1.382, terbanyak di Samarinda dan Balikpapan.

“Sekitar 1.097 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sedang menjalani pengobatan antiretroviral (ARV), sebagai  salah satu langkah untuk mengontrol penyebaran virus dan meningkatkan kualitas hidup ODHA,” ujar Kadinkes Kaltim, dr. H. Jaya Mualimin pada UpdateKaltim.

Berdasarkan data terbaru yang dirilis Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) per 30 Desember 2024, jumlah kasus HIV se-Kaltim mencapai 1.382 kasus.

Dari 1.382 kasus HIV/AIDS, Kota Samarinda menduduki posisi pertama dengan 511 kasus, diikuti Balikpapan dengan 362 kasus. Kabupaten lain seperti Kutai Kartanegara dan Kutai Timur mencatat masing-masing 126 dan 130 kasus. Kemudian Bontang 64 kasus, Berau 55 kasus, Kutai Barat 54 kasus dan Paser 51 kasus, Penajam Paser Utara (PPU) 26 kasus dan Mahakam Ulu 3 kasus.

Foto: Infografis HIV HIV/AIDS di Kaltim. (Sumber: SIHA 2024)

Menurut Jaya, kasus AIDS, yang merupakan fase akhir dari infeksi HIV, tercatat sebanyak 366 kasus,  kota Samarinda dan Balikpapan juga penyumbang terbanyak.

Rincianya, Samarinda tertinggi, ada 142 kasus, 81 kasus di Balikpapan, 13 kasus di Kutai Kartanegara, 28 kasus di Bontang, 43 kasus di Kutai Timur, 24 kasus di Kutai Barat, 20 kasus di Paser, lalu 11 kasus di Berau, 4 kasus di PPU. Hanya di Mahakam Ulu saja yang 0 kasus.

Tak hanya itu, Dinkes Kaltim juga mencatat kasus kematian yang diakibatkan HIV/AIDS selama tahun 2024, tercatat 132 kasus, tersebar di Samarinda (44) kasus, Balikpapan (44) kasus, Kutai Kartanegara (12) kasus, Bontang (5) kasus, Kutai Timur (10) kasus, Kutai Barat (6) kasus, Paser (3) kasus, Berau (2) kasus dan PPU (6) kasus.

“Hanya Mahakam Ulu yang 0 kasus,” terangnya.

Faktor utama penyebaran HIV/AIDS di Kaltim ini kata Jaya, kebanyakan atau rata-rata disebabkan oleh hubungan seksual yang tidak sehat. Dalam artian, suka bergonta-ganti pasangan.

“Namun, ada juga penularan melalui kontak darah, seperti dari ibu ke anak. Oleh karena itu, pemeriksaan HIV kini menjadi salah satu screening wajib untuk ibu hamil,” jelasnya.

Jaya menerangkan, meski sudah ada program pemeriksaan rutin untuk ibu hamil dan calon pengantin, masih banyak tantangan yang ada di lapangan. Salah satunya adalah kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya tes HIV.

“Edukasi menjadi kunci. Kita harus terus mendorong masyarakat untuk melakukan hubungan seksual yang aman dan rutin memeriksakan diri, terutama bagi kelompok berisiko tinggi,” ujarnya.

Pada bagian lain Jaya menambahkan, sepanjang tahun 2024 tercatat penduduk Kaltim terkena penyakit kelamin, seperti sifilis, sebanyak 537 kasus.

Sebaran 537 kasus penyakit kelamin tersebut, juga Samarinda nomor 1 yakni 230 kasus, Balikpapan (223) kasus, Kutai Kartanegara (21) kasus, Bontang (23) kasus, Kutai Timur (8) kasus, Kutai Barat (9) kasus, Paser (6) kasus, Berau (15) kasus, PPU (0) kasus, Mahakam Ulu (2) kasus,” bebernya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts