
Samarinda.UpdateKaltim.com – Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur (Sekdaprov Kaltim) Sri Wahyuni mengatakan bahwa perempuan tidak boleh gagap teknologi (gaptek) di era digital saat ini, agar tidak tertinggal.
“Sekarang zaman digital, dinamikanya cepat sekali. Perempuan tidak boleh gaptek agar tidak tertinggal. Namun disisi lain, kita harus bisa menyaring informasi dan membekali diri dengan literasi yang berdampak positif,” ujar Sri Wahyuni saat menghadiri talkshow Publika TVRI Kaltim, Senin (21/4).
Dalam momentum Hari Kartini, Sri Wahyuni menyerukan agar perempuan tidak hanya berkarya saja, tetapi juga cakap menghadapi dinamika zaman melalui literasi dan kecakapan digital.
“Warisan R.A. Kartini bukan hanya terletak pada perjuangan fisik atau simbolis saja, tetapi jejak literasi melalui tulisan, yang membakar semangat perempuan Indonesia untuk bangkit. Perempuan masa kini harus meneladani semangat itu, namun dalam konteks yang lebih luas dan modern.”
Menurut Sri Wahyuni, Kartini menuangkan semangatnya lewat tulisan. Literasi yang dibangun sekarang harus bisa memberi makna, bukan malah menimbulkan perseteruan.
Kemudian, walaupun hal-hal yang seringkali menjadi tantangan bagi kaum perempuan adalah punya perasaan halus, tepo soliro serta sifat cenderung mengalah.
“Perempuan itu harus bisa mengambil peran yang lebih baik, lebih luas, lebih berkualitas, punya daya saing dan menjadi seseorang yang disegani,” ajaknya.
Mantan Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kaltim itu juga menyinggung soal pergeseran peran perempuan dalam berbagai sektor yang dulunya identik dengan laki-laki. Kini kata dia, perempuan sudah mulai menduduki posisi strategis di dunia profesional, termasuk politik, ekonomi, dan teknologi.
“Kita pernah memiliki presiden perempuan, menteri perempuan, dan banyak lagi tokoh-tokoh serta peran-peran yang sudah pernah dijalankan oleh perempuan. Artinya, mereka bisa menempati pucuk-pucuk pimpinan atau yang kemampuan untuk memberi gerakan yang besar,” jelasnya.
Namun, tantangannya lainnya, justru berada pada kemampuan untuk tetap bersaing tanpa kehilangan jati diri. Seperti halnya, R.A Kartini yang masih mengingat kodratnya sebagai seorang wanita. Ia menikah walau dijodohkan.
“Kompetisi itu bagian dari dinamika. Memang, R.A Kartini ini memberi ruang bagi perempuan untuk beraktualisasi dengan optimal. Kendati begitu, dia tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan. Dia harus menikah dengan orang yang dijodohkan, bukan pilihannya. Nah, pada masa sekarang, kita harus bisa melakukan seleksi,” terangnya.
Disebutkan Sri, keberhasilan perempuan untuk menduduki posisi penting di berbagai sektor harus diikuti dengan kesadaran kolektif untuk mendorong perempuan lain agar bisa maju bersama.
“Kita punya tanggung jawab untuk memberdayakan perempuan lain di lingkup otoritas kita. Karena hari ini, perempuan punya peran besar memberi gerakan dan dampak bagi masyarakat. Ini PR bagi kita semua,” tuturnya.
Sri Wahyuni menjadi salah satu narasumber dalam program spesial Hari Kartini yang ditayangkan TVRI Kaltim. Selain dirinya, acara ini juga menghadirkan tokoh perempuan Kaltim lainnya seperti Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Kepala TVRI Kaltim Febriani, dan Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian.
Dengan tema “Perempuan Berdaya, Berkarya, Bermakna”, acara ini menjadi ruang berbagi gagasan dan inspirasi untuk memperkuat peran perempuan di Kalimantan Timur dalam menghadapi tantangan masa depan.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan








