
Samarinda.Updatekaltim.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) terus berupaya meningkatkan produktivitas sektor pertanian guna mencapai kemandirian pangan. Salah satu strategi utama yang akan diterapkan adalah intensifikasi pertanian.
Pernyataan itu disampaikan Wakil Gubernur (Wagub), Seno Aji, setelah menerima audiensi pengurus baru Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kaltim di Kantor Gubernur, Jalan Gajah Mada, Samarinda, pada Selasa siang (4/3).
Menurut Seno Aji, memanfaatkan alat serta teknologi modern agar petani lebih mandiri dan hasil panen semakin optimal menjadi strategi yang akan dilakukan pemerintah ke depannya. Harapannya, para petani tidak lagi bergantung pada metode konvensional yang kurang efisien.
“Kami ingin petani lokal tidak hanya bertahan, tapi bisa lebih maju dan mandiri. Oleh karena itu, kami mulai menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta pupuk untuk meningkatkan hasil panen,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga akan menjajaki kerja sama dengan beberapa negara dalam penyediaan teknologi pertanian. Seperti kerja sama yang dilakukan antara Penajam Paser Utara (PPU) dan Korea yang telah mengadopsi teknologi pertanian canggih.
“Nanti kita akan lakukan juga kerja sama itu. Kalau kemarin, pihak China menawarkan hal yang sama,” terangnya.

Penawaran kerja dari negara lain kepada Pemprov Kaltim ini masih akan dikaji. Sebab, tidak semua karakteristik lahan di Kaltim ini seperti Pulau Jawa. Penggunaan alat modern harus disesuaikan dengan kondisi lahan di Kaltim yang berbeda dengan daerah lain.
“Di sini ada beberapa daerah yang berawa, jika memakai alat modern bisa tenggelam dan lain sebagainya. Maka untuk pemilihan alat harus benar-benar disesuaikan agar nantinya tidak menimbulkan kendala bagi petani,” tambahnya.
Dengan berbagai langkah yang telah dirancang, harapannya sektor pertanian di Kaltim bisa berkembang lebih pesat dan petani semakin sejahtera. Ia memastikan semua program ini benar-benar terealisasi.
“Kita ingin memberikan dampak nyata bagi para petani di lapangan,” tegasnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan








