
Samarinda.UpdateKaltim.com – Kerja sering kali dianggap sebagai jalan seseorang menuju kesuksesan. Banyak orang yang berbondong-bondong pergi ke kota hanya untuk mencari kehidupan lebih baik daripada sebelumnya, dengan harapan bisa mendapat pekerjaan layak dan stabil.
Namun dibalik semua itu, apakah kota benar-benar menawarkan janji tersebut, atau justru menjadi ruang eksploitasi yang memaksa individu bekerja tanpa henti demi kepentingan segelintir pihak?
Pertanyaan ini menjadi inti dari diskusi antara para penggiat seni dan wartawan dalam acara bertajuk “Arena: Kota, Kerja, Film” yang digelar oleh Bioskop Sindikat Cinema di Samarinda, Jumat (21/2) malam.
Dengan menayangkan film klasik Secangkir Kopi Pahit (1984) ciptaan Teguh Karya, acara ini tidak hanya mengajak penonton menikmati karya sinema saja, tetapi juga menggali lebih dalam tentang bagaimana sistem kerja di kota bisa membentuk dan bahkan membelenggu kehidupan manusia.
Setelah pemutaran film berlangsung sekitar 100 menit, kurator Bioskop Sindikat Cinema, Asti, menyoroti pemikiran Karl Marx tentang kerja. Menurut Marx, kerja harusnya menjadi ekspresi kreativitas manusia, bukan sekadar rutinitas untuk bertahan hidup.
“Makna hidup manusia lahir melalui kerja. Kerja itu cara manusia mengekspresikan kreativitas, membentuk dunia di sekitarnya, dan memenuhi kebutuhannya,” ujarnya.

Namun dalam sistem kapitalisme, kerja tidak lagi menjadi ekspresi diri. Sistem ini membuat manusia terasing dari hasil kerjanya. Pekerja tidak memiliki kendali atas apa yang mereka produksi. Barang tidak lagi menjadi milik mereka, melainkan milik pemodal.
“Pekerja menjadi terasing dari proses kerjanya sendiri. Kerja menjadi aktivitas tanpa makna. Pekerja bahkan terasing dari sesamanya, dan mereka akhirnya terpaksa harus bersaing satu sama lain dalam sistem kapitalis. Hal ini pun membuat solidaritas melemah,” jelasnya.
Johan Huizinga, dalam teorinya tentang homo ludens pada tahun 1949, menyebut manusia sebagai makhluk yang bermain. Apabila kerja bisa menjadi bagian dari sebuah permainan, maka seharusnya ia memberi ruang untuk eksplorasi dan kebebasan.
Fakta yang terjadi, kerja di kota lebih sering menjadi tekanan dibanding kebebasan. Alih-alih bermain, manusia justru menjadi bagian dari mesin produksi yang dikendalikan oleh kepentingan ekonomi.
“Jika kita menerima gagasan bahwa manusia adalah makhluk yang bermain, maka sistem kerja idealnya harus memberikan ruang bagi eksplorasi, fleksibilitas, dan kemerdekaan. Oleh sebab itu, identitas dan kebermaknaan hidup manusia selalu terlibat dalam kerja.”
Kerja juga dianggap sebagai arena perebutan kekuasaan, di mana individu dan kelompok berusaha menegosiasikan posisi serta peran mereka dalam tatanan sosial yang dinamis. Padahal, hubungan antara kota, kerja, serta dinamika kekuasaan terletak pada bagaimana ruang urban menjadi arena untuk berjuang mendapatkan tempat, hak, dan pengakuan.
Kota bukan hanya sekadar latar bagi aktivitas ekonomi dan sosial, tetapi juga merupakan medan perebutan sumber daya, akses, serta representasi. Dalam konteks ini, kerja menjadi salah satu mekanis utama yang menentukan bagaimana seseorang dapat bertahan dan membangun identitasnya di dalam kota.
Ironinya, akses terhadap pekerjaan sering kali ditentukan oleh faktor-faktor seperti kelas sosial, pendidikan, jaringan, dan kebijakan ekonomi yang menciptakan ketimpangan.
Akibatnya, kota menjadi tempat di mana sebuah kelompok berkuasa mengontrol distribusi peluang, sementara kelompok marjinal harus menavigasi sistem untuk menemukan ruang bagi dirinya.
Film lain yang turut disebut dalam diskusi ini adalah Mayday Mayday Mayday karya Yonri Revolt, yang menampilkan eksploitasi pekerja dalam sistem modern. Para pekerja dianggap sebagai alat produksi tanpa perlindungan hak yang memadai.
Sedangkan Film: ‘Secangkir Kopi Pahit’ karya dari Teguh Karya merupakan sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana tradisi ataupun nilai-nilai budaya bisa mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap kerja dan kehidupan.
“Nah, kalau Film ‘Bulan di atas Kuburan’ karya Asrul Sani ini memperlihatkan kota sebagai sistem yang kapitalistik, di mana solidaritas sosial memudar, dan gaya hidup konsumtif sangat pekat.”
Film komedi ‘Mana Tahaaan’ karya dari Nawi Ismail juga menjadi sorotan Asti. Menurutnya, film ini menggambarkan soal absurditas dunia kerja dalam sistem masyarakat. Film ini lanjut dia, menampilkan tiga sahabat yang tinggal di sebuah kos di Jakarta dan berusaha mencari pekerjaan sambil mengejar mimpi mereka.
Nawi Ismail dalam karyanya menghadirkan gambaran kehidupan urban yang benar-benar penuh dengan tantangan dan situasi kocak. Dengan gaya komedi slapstick, ia merasa bahwa film ini menyindir bagaimana kerja dalam sistem masyarakat sering kali penuh dengan absurditas.
Mulai dari kesulitan mendapatkan pekerjaan hingga menghadapi atasan atau pelanggan yang tidak adil. Semua itu tegas Asti, menjadi lika-liku yang dihadapi seorang di dalam dunia kerja.
“Tema Arena: Kota, Kerja, Film mengajak kita memahami lebih dalam bagaimana kehidupan urban dan pekerjaan tidak hanya membentuk identitas serta pengalaman manusia, tetapi juga menjadi ruang tarik-menarik antara kepentingan, ketimpangan, dan resistensi,” tutupnya.
Penulis: Lydia Apriliani – Editor: Intoniswan








