Head NewsHumaniora

Medan Sulit Tak Halangi Nenek 78 Tahun Ziarah ke Makam Suaminya Jelang Bulan Suci Ramadan

Nenek Jasiah saat menaburkan kembang kantil dan daun pandan pada pusara mendiang suaminya, di Pemakaman Muslimin Damanhuri Samarinda, Minggu (23/2). (Updatekaltim.com/Lydia Apriliani)

Samarinda.UpdateKaltim.com –  Pemakaman Muslimin Damanhuri di Kota Samarinda, sejak hari Minggu pagi (23/2/2025) mulai ramai dikunjungi para peziarah jelang bulan suci Ramadan. Tradisi seperti ini mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat muslim setiap tahunnya.

Sudah menjadi kebiasaan, mereka yang masih hidup datang untuk mendoakan keluarga yang telah berpulang. Sama seperti halnya Jasiah, seorang nenek yang sudah berusia 78 tahun tampak dengan langkah hati-hati menapaki pemakaman berbukit di daerah tersebut.

Medan yang cukup berat tak menghalangi tekadnya. Tanpa melalui anak tangga yang tersedia di pemakaman jalan Daman Huri itu, ia memilih langsung melewati makam-makam untuk mencapai pusara suaminya.

Pemakaman yang letaknya di perbukitan ini memang dipenuhi makam yang tersusun tak beraturan, dengan jalanan yang sempit dan berbatu. Namun, meski harus bersusah payah, nenek Jasiah tetap melanjutkan langkahnya dituntun oleh sang cucu.

Walau sempat mengaku kesakitan saat naik ke bukit menuju pusara suaminya. Tetap saja, tak ada rasa lelah yang tergambar di wajah nenek Jasiah, hanya ketulusan dan rindu yang mendalam nampak dari sorot matanya.

“Sekuat-kuatnya bisa naik, nenek akan naik ke atas gunung. Walau susah dan kaki sakit, tadi pegang sana sini, pegangan sama cucu yang ikut. Semoga selalu sehat bisa terus ziarah,” ujarnya dengan suara lirih.

Sesampainya di pusara sang suami, nenek Jasiah duduk sejenak, lalu berdiri membuka bungkusan kecil berisi bunga tabur dan air yasin yang telah disiapkannya dari rumah. Dengan tangan keriputnya, ia menaburkan bunga warna-warni di atas pusara suaminya dan melantunkan doa dengan penuh khusyuk.

“Setiap tahun berziarah bawa kembang kantil, kembang pandan, kembang lainnya dan air yasin. Memang sudah kebiasaan bersih-bersih kuburan, menabur bunga dan menyedekahkan Al-fatihah. Tradisi dari datuk-datuk dulu sudah begitu, enggak di Samarinda aja tapi semua daerah pasti begitu jelang Ramadan atau IdulFitri.”

Sebaik-baik Harta adalah Anak yang Saleh

Nenek Jasiah rupanya sudah melakukan tradisi ini sejak kecil, bahkan sejak usia tiga tahun, mengikuti jejak nenek moyangnya yang lebih dulu menjalankan kebiasaan ini. Setiap jelang Ramadan, ia rutin mengunjungi makam suaminya, bapaknya, kakeknya, dan saudara-saudaranya.

Bagi nenek Jasiah, ziarah kubur bukan hanya sekadar ritual tahunan saja, tetapi juga bentuk penghormatan kepada para leluhur dan tidak lupa dengan orang-orang terkasih yang sudah tiada. Serta, juga sebagai pengingat bahwa semua manusia pasti akan kembali kepada sang pencipta.

“Jangan sampai tidak diperhatikan kuburan orang tua, suami dan saudara-saudara kita. Kasihan mereka, jangan kita lupakan mereka. Kalau bisa setiap berapa bulan sekali datang bersihkan kuburannya, doakan orang tua kita.”

Jelang Ramadan, para peziarah mulai ramai berdatangan ke pemakaman Damanhuri Samarinda yang terlihat sangat padat dan terjal. (Updatekaltim.com/Lydia Apriliani)

Menurutnya, momen ziarah bersama anak dan cucu ini menjadi ajang kebersamaan keluarga. Untuk cucu-cucunya yang masih kecil, Jasiah mengajarkan pentingnya mengenang para leluhur dan menjaga tradisi yang sudah diwariskan secara turun-temurun.

“Mudah-mudahan lah kita begitu juga nanti didoakan, diziarahi anak-anak dan cucu-cucu kita. Dikenangnya kita pas masa-masa masih hidup, karena sebaik-baik harta adalah anak yang saleh.”

Mengutip hadis Abu Hurairah r.a. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim No. 1631)

Hadis ini menunjukkan bahwa anak yang saleh adalah harta terbaik bagi orang tua karena doanya akan terus mengalir sebagai pahala bahkan setelah orang tua meninggal dunia.

Pesan untuk Perempuan Haid yang Ingin Ziarah

Matahari pun perlahan terbenam saat nenek Jasiah selesai menaburkan bunga di atas makam suaminya. Dengan perlahan dan hati-hati, ia merapikan barang bawaannya untuk dibuang ke tempat sampah. Namun, ketika turun dari area pemakaman, nenek Jasiah dikejutkan oleh kejadian tak terduga.

Salah satu cucunya tiba-tiba pingsan dan muntah-muntah. Kepanikan sempat melanda keluarga yang ikut berziarah. Rupanya, sang cucu belum makan seharian dan dalam kondisi datang bulan hari pertama.

“Kalau mau ke makam, harus isi perut dulu. Jangan sampai kosong, nanti pusing dan lemas. Apalagi pas haid, lebih baik jangan naik ke makam di bawah saja. Kalau masih darah terus keluar, kalau ‘titik’ (jatuh) kan itu bisa menambah dosa.”

Kejadian ini pun menjadi pengingat bahwa berziarah juga membutuhkan persiapan fisik yang matang dengan menjaga kondisi tubuh. Nenek Jasiah memberikan pesan bagi para perempuan yang sedang haid agar sebaiknya menunda kunjungan ke makam sampai benar-benar bersih.

“Bagusnya tunggu haid selesai saja, kita harus bersih-bersih naik ke atas kuburan. Kalau baca Yasin sebaiknya wudhu dulu, kan sama seperti baca Al-Qur’an itu pakai wudhu. Kalau belum bersih haidnya, lebih baik doakan saja dari rumah,” pesan nenek Jasiah.

“Jangan lupa juga kalau naik ke kuburan itu permisi, memberi salam dulu sama ahli kubur. Kalau bisa jangan melangkahi kuburan, lewat dipinggir-pinggirnya saja, yang haid takutnya kepohonan (bahasa Banjar: dapat celaka). Benar-benar harus hati-hati,” tambahnya.

Penulis: Lydia Apriliani – Editor: Intoniswan

Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts