
Balikpapan.UpdateKaltim.com – Pergerakan harga di Kalimantan Timur pada Juli 2025 dipengaruhi kombinasi cuaca dan distribusi. Kota Balikpapan mencatat deflasi tipis 0,01 persen (month to month/mtm), sedangkan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mengalami inflasi tinggi 0,88 persen (mtm).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Balikpapan sebesar 1,85 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibanding rata-rata nasional 2,37 persen dan gabungan empat kota di Kaltim 2,08 persen.
Deflasi Balikpapan terutama dipicu penurunan tarif angkutan udara akibat kebijakan diskon 6 persen dengan skema PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sejak Juni hingga akhir Juli 2025.
Penurunan harga juga terjadi pada air kemasan, kacang panjang, bayam, dan sawi hijau berkat kelancaran pasokan dan produksi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan kebijakan fiskal dan distribusi yang lancar memberi efek langsung pada harga.
“Stimulus transportasi udara terbukti membantu menahan tekanan harga di Balikpapan, sementara pasokan pangan yang terjaga membuat sejumlah komoditas mengalami penurunan,” katanya, Selasa (12/8/2025).
Meski begitu, beberapa komoditas pangan di Balikpapan masih naik, seperti tomat, cabai rawit, beras, bawang merah, dan mobil.
Kenaikan harga pangan dipicu pasokan terbatas dari Sulawesi dan Jawa Timur akibat cuaca kemarau basah, sedangkan harga mobil terdorong kenaikan biaya distribusi setelah harga BBM naik 1 Juli 2025.
Di PPU, inflasi didorong lonjakan harga tomat, cabai rawit, semangka, daging ayam ras, dan beras. Hujan berkepanjangan menghambat produksi dan menaikkan biaya, sementara pasokan dari luar daerah juga terbatas.
Sebaliknya, harga ikan layang, sawi hijau, buncis, kangkung, dan ketimun turun berkat musim ikan dan kelancaran distribusi sayuran.
Robi mengingatkan, cuaca dan kondisi laut masih menjadi faktor penentu harga di bulan-bulan mendatang.
“Prakiraan hujan di sentra produksi dan gelombang laut tinggi tetap menjadi tantangan bagi pemenuhan pasokan pangan, terutama hortikultura dan perikanan,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memperkuat koordinasi pengendalian harga.
“Kami akan terus melakukan pemantauan harga, operasi pasar, memperluas kerja sama antar daerah, dan mendorong masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan,” pungkasnya.
Penulis : Putri | Editor : Intoniswan








