Penulis: Zulkifli | Editor: Intoniswan | Adv Diskominfo Kukar

Tenggarong.UpdateKaltim.com – Udang windu menjadi salah satu komoditas perikanan unggulan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang menembus pasar ekspor Amerika Serikat dan Eropa. Namun, peluang pasar tersebut belum diimbangi produktivitas budi daya yang optimal karena sebagian besar tambak di daerah ini masih dikelola secara tradisional.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, mengatakan udang windu masih memiliki pasar ekspor yang menjanjikan. Selain Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, komoditas tersebut juga dipasarkan ke Inggris dan Jepang.
“Udang windu kita sudah memiliki pasar di Eropa. Ke Amerika, Eropa, termasuk Inggris, kemudian kadang-kadang ke Jepang,” ungkap Muslik di Tenggarong, Senin (19/10/2026).
Dijelaskan Muslik, udang windu menjadi salah satu komoditas yang perlu dipertahankan karena telah memiliki pasar di luar negeri. Pengembangan sektor budi daya menjadi salah satu hal penting agar potensi tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat.
Meski memiliki pasar ekspor, produktivitas tambak udang di Kukar masih tergolong rendah. Muslik menyebutkan, rata-rata produksi tambak saat ini hanya sekitar 50 kilogram per hektare.
Rendahnya produktivitas tersebut tidak terlepas dari pola budi daya yang masih mengandalkan sistem tradisional. Petambak umumnya menggunakan tanggul dan pintu air, kemudian menebar benih tanpa pemberian pakan tambahan secara intensif.
Pengelolaan tambak juga bergantung pada pasang surut air. Kondisi ini membuat hasil produksi belum maksimal, terutama untuk udang windu yang membutuhkan waktu pemeliharaan lebih panjang.
“Udang windu umumnya baru dapat dipanen paling cepat sekitar enam bulan hingga satu tahun. Sementara itu, hasil panen tambak yang lebih sering diperoleh petambak biasanya berupa udang binti dan jenis ikan lainnya,” jelasnya.
Sebagai perbandingan, sistem budi daya intensif mampu menghasilkan produksi jauh lebih tinggi. Pada komoditas udang vaname, produktivitasnya dapat mencapai lima hingga delapan ton per hektare.
“Kita sebenarnya juga ingin mencoba jenis vaname. Namun, di wilayah tertentu kita masih berpegang pada udang windu karena sudah memiliki pasar,” tuturnya.
Selain udang windu, Kukar juga memiliki sejumlah komoditas perikanan yang dipasarkan ke luar negeri. Di antaranya kepiting, kerang dara yang dikirim ke Thailand dan Hong Kong, serta ikan betutu yang memiliki pasar di Singapura, Taiwan, dan Hong Kong.
Disebutkan Muslik, khusus ikan betutu, permintaannya cenderung meningkat pada musim tertentu, seperti menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Namun, ketersediaan ikan tersebut kini semakin terbatas.
““Kami terus memantau perkembangan usaha perikanan dan kebutuhan masyarakat. Dengan pasar ekspor yang sudah tersedia, peningkatan produktivitas dan pengelolaan budi daya diharapkan dapat memperkuat posisi udang windu Kukar sekaligus meningkatkan pendapatan pembudi daya,” pungkasnya. (*)












