Head NewsHumaniora

Dinkes Kukar Soroti Gaya Hidup Tak Sehat, Puluhan Ribu Warga Terdata Hipertensi

Penulis: Zulkifli | Editor: Intoniswan | Adv Diskominfo Kukar

Foto: Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufiddah saat ditemui media ini di Tenggarong, Senin (28/9/2026). (UpdateKaltim.com/Zulkifli)

Tenggarong.UpdateKaltim.com – Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara (Dinkes Kukar) mengingatkan masyarakat untuk kembali menerapkan pola hidup sehat di tengah kebiasaan yang semakin minim aktivitas fisik dan tingginya konsumsi makanan serta minuman manis. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian seiring masih tingginya kasus penyakit tidak menular di Kukar.

Berdasarkan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kukar hingga Agustus 2026, tercatat 29.021 orang dengan hipertensi atau 45,06 persen dari sasaran pelayanan. Sementara itu, penderita diabetes melitus (DM) tercatat 11.162 orang atau 60,39 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan kondisi tersebut menjadi pengingat agar masyarakat kembali menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

“Sekarang orang sudah meninggalkan yang namanya Germas. Olahraganya sudah mulai ditinggalkan,” kata Ismi saat di temui media ini di kantor Dinkes Kukar, Senin (28/9/2026).

Perubahan gaya hidup membuat penyakit tidak menular yang sebelumnya lebih banyak ditemukan pada usia lanjut mulai muncul pada kelompok usia lebih muda.

“Dulu orang kena penyakit tidak menular seperti hipertensi biasanya usianya di atas 45 tahun. Sekarang sudah di atas 25 tahun ada yang kena stroke, hipertensi dan gula darah,” ujar Ismi.

Ismi menilai kebiasaan mengonsumsi kopi dan minuman manis yang semakin mudah ditemukan turut memengaruhi pola hidup masyarakat. Selain pola makan, kurangnya aktivitas fisik juga menjadi persoalan.

Karena itu, Germas tidak hanya diterapkan melalui olahraga, tetapi juga dengan mengatur pola makan, membatasi penggunaan gawai dan memperbanyak interaksi sosial.

“Banyak aktivitas fisik. Aktivitasnya bukan mata dan tangan saja, scrolling-scrolling begitu. Tapi aktivitas fisik dan makan juga,” jelasnya.

Untuk itu, ia mengingatkan masyarakat agar lebih selektif memilih makanan. Menurutnya, makanan cepat saji, gorengan dan minuman dengan tambahan gula kini lebih mudah dijumpai dibandingkan pilihan makanan sehat.

“Yang tersedia di sekitar kita dan gampang ditemukan, menurut saya semuanya tidak sehat. Makanan cepat saji, gorengan, kemudian jus, tapi sama-sama manis karena ada gula,” sebutnya.

Ismi menyebut kondisi kesehatan masyarakat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk perilaku dan lingkungan. Karena itu, pencegahan penyakit tidak menular tidak cukup hanya dilakukan ketika seseorang sudah jatuh sakit.

Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat upaya deteksi dini melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG). Hasil pemeriksaan tersebut dapat menjadi dasar untuk mengetahui faktor risiko penyakit dan menentukan langkah pengawasan maupun program kesehatan berikutnya.

“Dengan adanya CKG, pemerintah sudah memikirkan jauh ke depan. Sebelum dia sakit, kita harus skrining dulu,” pungkasnya. (*)

Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts