Head NewsHumaniora

Dinkes Kukar Ingatkan Masyarakat Diabetes Dapat Berkembang Tanpa Gejala

Penulis: Zulkifli | Editor: Intoniswan | Adv Diskominfo Kukar

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara (Dinkes Kukar), Leni Astuti saat ditemui media ini di Tenggarong, Senin (28/9/2026). (UpdateKaltim.com/Zulkifli)

Tenggarong.UpdateKaltim.com – Diabetes melitus kerap disebut sebagai silent killer karena penyakit ini dapat berkembang tanpa gejala yang disadari penderitanya. Kondisi tersebut membuat seseorang merasa sehat, meski kadar gula darahnya sudah tinggi dan berisiko menimbulkan komplikasi.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara (Dinkes Kukar), Leni Astuti, mengatakan, diabetes tidak selalu menunjukkan keluhan pada tahap awal. Akibatnya, sebagian masyarakat baru mengetahui kondisinya setelah menjalani pemeriksaan kesehatan.

“Itulah yang saya maksud dengan silent killer, penyakitnya sebenarnya sudah ada, tetapi kita tidak menyadarinya karena belum merasakan gejala,” kata Leni saat ditemui media ini di kantor Dinkes Kukar, Tenggarong, Senin (28/9/2026).

Ia menuturkan, risiko diabetes dipengaruhi faktor genetik dan pola hidup. Seseorang yang memiliki orang tua dengan riwayat diabetes melitus atau hipertensi memiliki risiko lebih besar mengalami kondisi serupa.

Hindari minuman tinggi gula

Risiko tersebut dapat semakin tinggi jika tidak diimbangi pola hidup sehat. Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta rendahnya aktivitas fisik menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

Di sisi lain, aktivitas fisik juga cenderung berkurang karena berbagai kebutuhan dapat dilakukan dengan mudah melalui perangkat digital dan layanan pesan antar.

“Salah satu hal yang paling saya khawatirkan sekarang adalah semakin banyaknya konsumsi minuman manis. Di sisi lain, aktivitas fisik masyarakat juga semakin berkurang,” ujarnya.

Menurut Leni, kondisi gula darah tinggi yang belum menimbulkan keluhan bukan berarti dapat diabaikan. Pemeriksaan dapat menemukan seseorang berada pada tahap prediabetes, sehingga perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik dapat segera dilakukan.

“Kalau kita mengetahui kondisi kesehatan kita, jangan merasa takut. Justru dengan melakukan pemeriksaan, kita bisa mengetahui apakah ada masalah kesehatan yang selama ini tidak kita sadari,” katanya.

Ia menyebut program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dapat menjadi salah satu cara mendeteksi risiko kesehatan lebih awal. Pemeriksaan dilakukan pada berbagai kelompok usia, termasuk anak sekolah.

Leni mengatakan diabetes juga dapat ditemukan pada usia muda. Karena itu, pemeriksaan tidak hanya penting bagi orang dewasa atau lanjut usia, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengenali risiko kesehatan sejak dini.

“Penyakit ini tidak hanya pada orang tua saja, saat ini sudah banyak anak muda yang terkena diabetes akibat pola hidup tidak sehat,” ungkapnya.

Sementara bagi masyarakat yang sudah terdiagnosis diabetes, pengendalian harus dilakukan dalam jangka panjang. Pasien perlu mengikuti pengobatan dan pemeriksaan secara rutin serta menjaga pola makan dan aktivitas fisik sesuai anjuran tenaga kesehatan.

“Diabetes yang tidak terkendali juga dapat menyebabkan komplikasi pada sejumlah organ, seperti ginjal, jantung, mata, saraf, dan pembuluh darah,” tuturnya.

Terlebih jika terdapat luka pada tubuh yang sulit sembuh dan pasien telah didiagnosis diabetes, kondisi tersebut perlu segera diperiksakan ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

“Kalau luka sudah cukup berat, sebaiknya jangan dirawat sendiri oleh keluarga. Ada risiko penggunaan alat yang tidak steril atau pemasangan perban yang tidak tepat,” pungkasnya. (*)

Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts