Penulis: Zulkifli | Editor: Intoniswan | Adv Diskominfo Kukar

Tenggarong.UpdateKaltim.com – Nakhoda kapal yang beroperasi di sungai Mahakam dan sungai-sungai lainnya, maupun perairan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, diminta menyesuaikan kecepatan dan meningkatkan kewaspadaan, karena kabut asap masih membatasi jarak pandang.
“Kondisi ini berisiko meningkatkan potensi kecelakaan, terutama bagi kapal kecil yang melintas di jalur pelayaran bersama kapal berukuran besar,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kukar, Ahmad Junaidi, Kamis (15/10/2026).
Dia mengingatkan keselamatan pelayaran tidak hanya bergantung pada kemampuan nakhoda, tetapi juga kelayakan kapal, kondisi lingkungan atau cuaca, serta ketersediaan sarana pendukung navigasi.
“Keselamatan pelayaran itu ada empat faktor utama. Pertama SDM, kedua kondisi kapal, ketiga lingkungan atau cuaca, dan keempat sarana pendukung navigasi,” kata Junaidi.
Salah satu hal yang perlu dilakukan nakhoda ketika jarak pandang terbatas adalah mengendalikan kecepatan kapal sesuai kondisi perairan. Nakhoda juga harus memperhitungkan keberadaan kapal lain agar dapat mengantisipasi potensi tabrakan.
Kewaspadaan tersebut terutama diperlukan bagi pengguna kapal kecil, seperti ces dan ketinting, yang banyak beraktivitas di wilayah hulu Kukar. Ukuran kapal yang relatif kecil membuatnya lebih sulit terlihat oleh kapal lain ketika perairan diselimuti kabut asap.
Risiko juga muncul ketika kapal kecil berpapasan dengan kapal besar, seperti tongkang pengangkut material. Kapal besar memiliki kemampuan manuver yang lebih terbatas sehingga membutuhkan ruang untuk mengubah arah atau menghindari objek di depannya.
“Kalau jarak pandang terbatas, tentu kecepatan juga harus menjadi perhatian. Ini yang perlu diperhatikan, terutama oleh pengguna kapal kecil seperti ces atau ketinting yang beraktivitas di wilayah hulu,” jelasnya.
Selain mengatur kecepatan, nahkoda perlu memastikan kapal dalam kondisi layak beroperasi dan perlengkapan keselamatan tersedia. Kesiapan tersebut menjadi bagian penting untuk mengantisipasi risiko selama perjalanan, khususnya ketika kondisi lingkungan berubah.
Untuk itu, Juaidi mengingatkan pentingnya sarana pendukung navigasi, seperti kompas, alat komunikasi, dan lampu. Peralatan tersebut perlu tersedia dan berfungsi dengan baik agar dapat menunjang operasional kapal serta membantu nahkoda mengenali situasi di sekitarnya.
Selain itu, penggunaan lampu menjadi perhatian khusus ketika kapal beroperasi pada malam hari dalam kondisi berkabut. Junaidi menilai, pemilihan lampu perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan agar keberadaan kapal lebih mudah diketahui pengguna transportasi lainnya.
“Apalagi kalau malam hari, kapal harus menggunakan lampu. Lampunya pun harus menggunakan lampu yang bisa menembus kabut, yaitu lampu berwarna kuning. Kalau warna putih, biasanya tidak bisa menembus kabut,” ujarnya.
Kabut asap sendiri dilaporkan menyelimuti sejumlah wilayah Kukar dengan tingkat kepekatan yang berbeda. Berdasarkan laporan yang diterima Dishub, Kecamatan Muara Muntai menjadi salah satu wilayah dengan kondisi asap cukup pekat pada pagi hari.
“Berdasarkan laporan kawan-kawan yang melaporkan setiap pagi, kondisi yang cukup pekat itu berada di Kecamatan Muara Muntai. Tadi pagi kondisinya hampir tidak kelihatan, tetapi sekitar pukul 10.00 Wita sudah mulai membaik,” ungkapnya.
Sementara itu, kondisi di Muara Jawa, Anggana, dan Kutai Lama dilaporkan tidak terlalu pekat. Aktivitas pelayaran di Muara Jawa dan Anggana pun masih dalam kondisi aman berdasarkan laporan yang diterima.
Meski kondisi kabut asap dapat membaik seiring waktu, Junaidi mengingatkan nahkoda tetap perlu memperhatikan perubahan jarak pandang sebelum dan selama berlayar. Pengemudi kapal harus mengutamakan keselamatan dan tidak memaksakan perjalanan apabila kondisi perairan dinilai membahayakan.
“Kewaspadaan tersebut tidak hanya berlaku bagi nahkoda kapal, tetapi juga pengguna transportasi darat yang melintasi wilayah terdampak kabut asap. Penyesuaian aktivitas dengan kondisi lingkungan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kecelakaan,” pungkasnya (*)












