Penulis: Zulkifli | Editor: Intoniswan | Adv Diskominfo Kukar

Tenggarong.UpdateKaltim.com – Ketergantungan pembudidaya ikan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terhadap pakan dari luar daerah menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan sektor perikanan. Kehadiran pabrik pakan ikan di daerah dinilai dapat menjadi salah satu peluang untuk mendukung usaha budidaya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, mengatakan, kajian terkait peluang pengembangan pabrik pakan ikan telah disusun. Pemerintah daerah juga telah menyiapkan langkah awal untuk menawarkan peluang investasi tersebut kepada calon investor.
Ia menyebut, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kukar telah menyusun profil investasi yang memuat sejumlah informasi dasar mengenai peluang usaha di daerah.
“Harapannya memang kita mendorong ke arah sana. Kajian terkait hal itu juga sudah dibuat. DPMPTSP juga sudah membuat profil investasi untuk ditawarkan kepada investor,” ujar Muslik saat disambangi UpdateKaltim.com di kantor DKP Kukar di Tenggarong, Kamis (15/10/2026).
Ia menjelaskan, profil investasi tersebut berisi gambaran lokasi pengembangan, prospek usaha, serta informasi pendukung lainnya yang dibutuhkan calon investor untuk mempertimbangkan peluang investasi di Kukar.
“Selain pengembangan industri pakan ikan, terdapat potensi lain yang turut disiapkan dalam profil investasi daerah, salah satunya usaha rumput laut,” kata Muslik.
Muslik menilai, persoalan pakan perlu menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan biaya produksi pembudidaya. Saat ini, sebagian besar pakan ikan yang digunakan masih berasal dari pabrik di luar Kalimantan Timur, terutama dari Pulau Jawa.
Ia menyebutkan sejumlah produsen pakan memiliki jaringan produksi di Indonesia, termasuk perusahaan yang berasal dari luar negeri dan telah memiliki fasilitas pabrik di dalam negeri.
Di sisi lain, tingginya biaya produksi membuat pembudidaya harus memperhitungkan harga jual ikan agar usaha tetap memberikan keuntungan.
“Contohnya saja, ikan nila yang dijual di bawah Rp30.000 per kilogram sulit memberikan keuntungan bagi pembudidaya. Hal serupa juga terjadi pada ikan lele yang harga jualnya berada di bawah kisaran Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilogram,” sebutnya.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan struktur biaya produksi, termasuk pengeluaran untuk pakan, dalam menjaga keberlanjutan usaha budidaya ikan.
“Dengan adanya kajian dan profil investasi, peluang pengembangan industri pakan ikan di Kukar diharapkan dapat ditawarkan kepada investor yang berminat mengembangkan usaha di sektor perikanan daerah,” tandasnya. (*)












