Penulis: Zulkifli | Editor: Intoniswan | Adv Diskominfo Kukar

Tenggarong.UpdateKaltim.com – Petani di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dapat kini dapat mengeringkan gabah dengan peralatan yang bisa dipindah-pindah (portabel) yang disebut dengan lantai jemur. Fasilitas ini ditempatkan di sejumlah titik lahan pertanian agar proses penanganan gabah pascapanen oleh kelompok tani lebih mudah dan lebih cepat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kukar, Ananias, mengatakan, pengadaan lantai jemur portabel menjadi salah satu program pemerintah daerah untuk mendukung kebutuhan petani, khususnya di kawasan sentra produksi padi.
“Selama masa kepemimpinan Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, kami menargetkan pengadaan 500 unit diseluruh sentra produksi padi di Kukar,” terang Ananias di Tenggarong, Selasa (27/10/2026).
Dari target tersebut, sebanyak 104 unit telah terealisasi dan tersebar di sejumlah wilayah, seperti Tenggarong Seberang, Loa Kulu, Loa Janan, Muara Kaman, dan Sebulu.
Dijelaskan Ananias, fasilitas ini menjadi alternatif dari lantai jemur permanen yang membutuhkan ketersediaan lahan khusus. Apabila hanya mengandalkan satu bangunan permanen, petani yang mengelola lahan hingga puluhan hektare harus menempuh jarak cukup jauh untuk mengeringkan hasil panennya.
“Kalau lantai jemur permanen, kita membangun satu tempat, sementara lahannya bisa sampai 20 hektare atau 30 hektare. Untuk menuju bangunan itu kan jauh,” ujarnya.
Melalui sistem portabel, fasilitas dapat disebar di beberapa titik sesuai kebutuhan kelompok tani. Setiap kelompok bisa memperoleh lima hingga 10 unit setelah mengajukan permohonan dan melalui pemeriksaan kelayakan oleh Dinas Ketapang Kukar.
Satu unit lantai jemur berukuran 4 x 24 meter dengan kapasitas sekitar dua ton gabah dalam sekali pengeringan. Prosesnya membutuhkan waktu dua hingga tiga hari, bergantung pada kondisi dan kebutuhan pengeringan.
Keunggulan lainnya terletak pada penggunaan plastik ultraviolet (UV) yang membantu mempertahankan panas di dalam bangunan. Dengan sistem tersebut, panas yang tersimpan dapat mendukung proses pengeringan meskipun cuaca berubah atau hujan turun.
“Kalau misalnya kemarin panas, kemudian hari ini hujan, panasnya sudah terperangkap karena kita menggunakan sistem UV,” jelasnya.
Dari sisi biaya, pengadaan satu unit lantai jemur portabel berada di bawah Rp20 juta. Konstruksinya menggunakan material baja, sedangkan bagian plastik UV perlu mendapat perhatian dalam pemeliharaan karena dapat mengalami kerusakan atau berjamur seiring waktu.
Selain gabah, fasilitas ini sebenarnya dapat digunakan untuk mengeringkan komoditas lain, seperti jagung, kopi, ikan, dan rumput laut. Meski demikian, pemanfaatan di Kukar saat ini difokuskan untuk membantu petani menjaga kualitas gabah setelah panen.
Ananias berharap, penambahan unit secara bertahap dapat memperluas jangkauan fasilitas pengeringan di sentra produksi padi, sehingga petani memiliki akses yang lebih dekat dan proses penanganan hasil panen dapat berjalan lebih efektif.
“Program pengadaan lantai jemur portabel mulai dilaksanakan pada 2025 anggaran perubahan, sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah mendukung penanganan pascapanen dan kebutuhan petani di wilayah sentra produksi,” tandasnya. (*)












