Head NewsHumaniora

Hijrah

Cerpen Karya: Efrinaldi

Ilustrasi Foto Alodoktor.com

Ketika Rudi menginjak usia 63 tahun dan telah tujuh tahun pensiun, dia telah mencapai kehidupan yang tenang dengan tabungan masa tua yang memadai, terbetik dalam pikirannya untuk memperbaiki dirinya dalam menjalani agama.

Ada kebiasaan tidak baik yang telah lama ingin diubahnya yaitu merokok. Merokok menurut pendapat mayoritas kalangan Islam termasuk makruh. Dia ingin menghentikan perbuatan makruh.

Pertama dan utama adalah berhenti merokok. Kebulatan tekadnya diambil di suatu malam ketika listrik PLN mati sejak magrib. Dia tidak henti-henti merokok sampai jam sebelas malam. Setelahnya dia berbaring. Listrik tak menyala juga.

Dalam keadaan berbaring timbul pencerahan untuk menghentikan perbuatan makruh dalam dirinya. Dia tekadkan untuk berhenti merokok mulai esok hari. Dia ingin hijrah dari melakukan hal makruh ke meninggalkannya.

Rudi salat taubat dua rakaat dan salat sunat mutlak dua rakaat. Dalam doanya, dia memohon pada Allah untuk dikuatkan meninggalkan yang makruh dan memperbanyak amal sunat. Amal sunat yang ingin dia lakukan rutin adalah salat sunat dan puasa sunat. Dia berangkat tidur.

***

Ketika sarapan pagi Rudi berbincang-bincang dengan istrinya.

“Dinda, Kanda bertekad untuk berhenti merokok mulai hari ini.”

Mata istri Rudi bersinar dan berujar, “Benarkah, Kanda? Itulah yang terbaik. Selain baik untuk kesehatan Kakanda, juga terlepas dari perbuatan makruh. Selain itu juga menghemat.”

Rudi menyeruput teh tawar hangat. Dia menegakkan badannya duduk di kursi.

“Sudah lama Kakanda niatkan. Tetapi baru tadi malam Kakanda memasang tekad bulat,” ujar Rudi dengan nada pasti.

“Dianda akan dukung Kakanda untuk berhasil berhenti merokok. Salah satu kuncinya, berhentilah membeli rokok mulai hari ini,” ujar istri Rudi dengan lembut.

Tampak Rudi menguatkan hatinya dengan memejamkan mata kemudian berteriak, “Ya! Aku berhenti merokok mulai saat ini!”

Rudi beranjak dari meja makan. Dia pergi ke halaman. Matanya tertuju ada tiga kuntum bunga mawar yang sedang mekar di taman. Dia memetik satu kuntum dan membawanya masuk. Diletakkannya di vas bunga yang berisi air.

“Aku mau melihat diriku secantik mawar ini. Memberikan keindahan,” kata Rudi setengah berbisik.

“Bagaimana caranya, Kanda?” tanya istrinya.

“Aku mau menjadi teladan bagi teman-temanku sebagai orang yang berhasil berhenti merokok. Perbuatan itu bukankah keindahan?” kata Rudi setengah berteriak.

Istri Rudi tersenyum.

“Kakanda memang menjadi teladan bagi banyak orang dari dulu. Waktu sekolah Kakanda pelajar teladan. Sewaktu bekerja menjadi pegawai teladan. Dan ditengah-tengah keluarga besar juga menjadi teladan baik dalam menjaga kekeluargaan juga mengelola keuangan,” kata istri Rudi.

“Dinda memang tahu sifat Kakanda. Ingin menjadi teladan. Baiklah ini tantangan terbaru Kakanda untuk menjadi teladan orang yang berhasil berhenti merokok,”ujar Rudi.

“Lebih baik keinginan dipuji juga dihilangkan. Ingin dianggap teladan juga berarti haus pujian,”cetus istri Rudi.

Rudi tertawa.

“Benar juga. Biarlah hanya mengharapkan ridha Allah,”kata Rudi seperti mendapat pencerahan.

Istri Rudi terdiam. Dia memandang suaminya dengan pandangan penuh haru.

Istri Rudi mengangkat tangannya seperti berdoa. Rudi hanya memperhatikan.

Setelah istri Rudi mengusapkan kedua tangannya ke mukanya, Rudi tidak berkata apa-apa. Dia yakin, istrinya mendoakan yang baik-baik.

Jam sembilan pagi Rudi pergi berwudhu. Dia menunaikan salat dhuha. Melihat ini istri Rudi terlihat sumringah. Selama ini dia suka melihat suaminya terbenam dengan pikirannya sendiri sambil merokok.

***

Istri Rudi pergi ke halaman belakang rumah. Dia membawa bibit kelapa.

“Kanda, ini bibit kelapa yang siap ditanam di kebun kita!” kata istri Rudi.

Rudi ingat bahwa rencana menanam bibit kelapa ini telah tertunda dua minggu.

“Baiklah, kita sekarang berangkat ke kebun untuk menanamnya!” ujar Rudi.

Rudi dan istrinya bergegas ke kebun. Mereka menanam dua bibit kelapa. Inilah kebangkitan Rudi untuk hidup lebih baik, meninggalkan perbuatan sia-sia dan menuju perbuatan yang bermanfaat, meninggalkan yang makruh dan memperbanyak yang sunat.

Satu jam saja, kedua bibit kelapa telah tertanam. Rudi duduk di beranda rumah kebun. Dia asyik menikmati tonggeret di pohon manggis. Kebun terasakan sangat damai, sedamai hati Rudi dan istrinya.@

Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts