31.3 C
Samarinda
Jumat, September 30, 2022
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

PII: Proyek IKN, Tantangan Besar & Milik Bersama

SAMARINDA – Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur, sudah didepan mata. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebut sejumlah proyek pembangunan di IKN Nusantara telah ditandatangani kontraknya bulan ini.

Proyek-proyek yang mulai dikerjakan di antaranya adalah pembangunan jalan akses, termasuk jalan tol. Lahan untuk proyek itu sebagian telah dieksekusi, sedangkan sebagian lainnya masih dalam proses.

Ada 19 paket pekerjaan pembangunan infrastruktur IKN Nusantara yang dipastikan menggunakan anggaran 2022. 19 paket itu senilai Rp5,32 triliun dilaksanakan setelah tahapan tender selesai dilakukan.

“Gawe besar itu sudah didepan mata. Pembangunan IKN sudah bergulir dan terus menerus berlangsung bertahap hingga 2045 mendatang,” ungkap Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ir. Dandung S. Harninto, ST., MT., IPU pada Update Kaltim.

Menurut pakar teknik sipil nasional ini, pembangunan IKN adalah gawe besar nasional. Tantangannya begitu besar sehingga dibutuhkan keahlian SDM terbaik negeri tanpa harus dikotak-kotakkan.

“Pembangunan akbar ini butuh keahlian dalam pelaksanaan proyek fisik dan non fisik dari semua bidang keahlian insinyur. Baik arsitektur, sipil pertamanan, kelistrikan, teknologi dan lain sebagainya. Semuanya bermuara pada pembangunan nusantara yang Smart City,” paparnya.

Masalahnya, kesiapan dari tenaga ahli itu sendiri ketika dihadapkan tantangan besar pembangunan. Tak hanya cakap dalam skill tetapi juga mampu menjaga ritme bekerja dalam tim besar demi kepentingan bangsa.

“Ini pekerjaan besar bersama. Bukan semata punya insinyur pusat, bukan insinyur kaltim. Tetapi gawe kolaborasi semua keahlian insinyur,” sebutnya.

Menurutnya, disitulah peran aktif PII dalam membangun dan menyiapkan insinyur yang betul-betul siap terlibat.

“Kepentingan PII sangat besar di IKN. Karena menjadi satu-sataunya wadah keahlian bidang teknik. Inilah salah satu tugas utama PII berbuat untuk negeri,” katanya.

Ditanya soal minimnya SDM teknik di kaltim, menurutnya bukan sesuatu yang lumrah. Karena persoalan serupa juga ditemukan dibanyak daerah.

“Keahlian SDM di Indonesia memang tidak merata. Bukan hanya di Kaltim. Meski, secara resource Kaltim sudah sangat baik. Kuncinya bukan mencari SDM perorangan. Tetapi memantapkan dan menguatkan entitasnya,” ulasnya.

Entitas keprofesian seperti PII mutlak dibutuhkan untuk bisa saling mengisi dan sharing terkait keahlian yang dibutuhkan untuk mengawal pembangunan IKN.
“Saling mengisi. Take and give. Butuh kolaborasi skill level engineer baik dari kaltim maupun yang diluar kaltim. Sekali lagi, ini proyek nasional. Kebetulan, Kaltim menjadi ujung tombaknya karena menjadi venuenya,” paparnya lagi.

Apalagi sejak awal peran PII sangat aktif pada proses pembangunan IKN. Ketua satgas IKN, yakni Danis Hidayat Sumadilaga diketahui adalah juga Ketua Umum PII periode 2021-2024.

“PII sudah terlibat pada semua proses awalnya (pembangunan IKN). Mulai perencanaan, visibility study hingga pelaksanaannya,” jelasnya.

Mengacu pada hal itu, Dandung menegaskan tak ada pengotakan antara SDM lokal dan nasional.

“Ini adalah tantangan besar secara kelembagaan. Kesempatan dan peran penting harus diambil berdasarkan kriteria tenaga keahlian masing-masing. Sekali lagi, harus dikerjakan bareng-bareng,” tegasnya. (uk/adv/diskominfo) 

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular