31.3 C
Samarinda
Jumat, September 30, 2022
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Penyakit Mental: Diam Tapi Mematikan

SAMARINDA – Masih banyak masyarakat abai dengannya. Padahal diam-diam mereka bisa menjangkiti siapa pun tanpa disadari. Penyakit mental bukan sesuatu yang receh untuk diacuhkan.
Dhani, bukan nama sebenarnya, seorang tenaga kesehatan RSJD Atma Husada Samarinda terpaksa menahan sakit di pergelangan tangan. Tangannya memar setelah alami kontak fisik dengan salah satu pasien yang tengah marah. Mau balik melawan tidak boleh dilakukan. Dhani cuma bisa mengelus dada dan membatin sembari bergerutu.

Hanya beberapa saat pasien itu kembali datang sambil tersenyum, seperti tidak terjadi apa-apa. Mereka berdua kembali bercengkrama seperti sedia kala. Itu hanya satu dari sekian ratus pasien yang ia hadapi. Ada kalanya Dhani harus mengambil tindakan kasar untuk menenangkan. Namun ada kalanya cara persuasif digunakan. “Kalau kesal sih ya kadang kesal, diam-diam tiba-tiba mukul tapi habis itu ketawa-ketawa lagi,” ceritanya.

Di usia yang masih terbilang muda, berhadapan dengan orang-orang ini adalah pengalaman baru baginya. Beragam latar belakang pasien dengan penyakit mental pernah ia hadapi. Pernah di suatu siang bolong seorang pasien perempuan dengan paras menarik datang. Dia tersenyum kepada Dhani. Bergetar jantung Dhani menatapnya. Mereka saling membalas senyum. Lalu tiba-tiba perempuan itu mulai menunjukan raut emosi. Laki-laki beranak satu ini pun bingung dan merasa tidak nyaman. Rupanya si perempuan tadi adalah seorang pramuria di sebuah klab malam di Samarinda. Saat itu perempuan tersebut sedang mengambil jatah obatnya yang habis. Menurut cerita, hampir setiap malam si perempuan tersebut dicekoki narkotika oleh tamu yang dia layani. Tak cuma satu tamu, kadang lebih. Otaknya rusak. Ia alami kecanduan narkotika sehingga memengaruhi kemampuan otak dan kepribadiannya.

Ada pula yang usianya lebih muda darinya datang ke RSJD untuk berobat. Pasien ini masih SMA. Ia didiganosis alami depresi gara-gara kalah main game online di gadget. “Dia pasang taruhan dan skin macam-macam di game online terus kalah. Setelah itu mulai marah-marah dan dibawa berobat ke sini sama orang tuanya.”
Yang lebih miris baginya ada satu pasien. Masih SMA juga. Ia pernah mewakili lomba olimpiade sains sekolahnya ke luar daerah. Tapi ia justru depresi. Usut punya usut ia ditekan oleh ayahnya yang menuntutnya harus menjadi sempurna dalam berbagai hal. Ia stres. Dan memilih berobat ke RSJD.

Tak melulu tentang kesedihan. Kadang ada pula sesungging tawa yang berasal dari para pasien sendiri. Pernah suatu ketika seorang pasien rawat inap dengan pakaian kemeja masuk ke ruang perawat. Kemejanya tidak beraturan. Sebagian masuk celana sebagian tidak. Bahkan ada kancing yang tidak seimbang. Sontak seisi ruangan tertawa.
“Jadi kalau mau ngetes orang itu normal atau enggak, liat saja kancing bajunya, rata enggak. Kalau miring kemungkinannya cuma dua. Dia stres atau gila,” katanya sambil berkelakar.
Depresi Kaltim Tertinggi (e-paper), Pengidap Depresi di Kaltim Tertinggi (online)
Dirut RSJD Atma Husada dr Jaya Mualimin menyebut penyakit mental ada dua jenis. Yaitu Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Orang yang dirawat di RSJD berarti masuk kategori ODGJ dan sudah pasti alami gangguan mental. Tapi tidak semua ODMK berstatus seperti ODGJ.
“ODMK intinya mereka masih bisa berfikir secara baik dan waras, masih bisa berinteraksi. Cuma ada kendala dalam pikiran mereka yang membuat diri mereka tidak nyaman,” kata Jaya di ruang kerjanya.

Dari data RSJD, pasien yang jalani rawat inap sejak Januari hingga Juni 2022 berjumlah 1.047 orang. Sementara yang rawat jalan di periode yang sama totalnya 10.570 orang. Skizofrenia adalah penyakit paling banyak ditangani. Untuk rawat jalan penyakit tertinggi yang ditangani adalah skizofernia tak terinci (2.037 orang), skizofrenia paranoid (1.508 orang), skizofrenia hebefrenik (259 orang), autisme masa kanak (256 orang) hingga gangguan mental akibat disfungsi otak dan penyakit fisik (212 orang).

Sementara untuk rawat inap meliputi skizofrenia tak terinci (425 orang), skizofrenia paranoid (367 orang), gangguan mental karena kerusakan otak dan penyakit fisik (44), COVID-19 (43 orang), gangguan psikotik polimorfik akut (27 orang) dan skizofrenia hebefrenik (25 orang). (selengkapnya lihat grafis).

Skizofrenia dan depresi adalah gejala yang paling banyak ditemukan. Kaltim sebenarnya paling rawan terserang depresi. Dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan yang dilakukan selama lima tahunan (2013-2018), prevalensi depresi penduduk Kaltim di atas 15 tahun adalah 6,2, tertinggi dari standar negara yakni 6,1. Nilai ini tertinggi di Kalimantan.

Artinya setiap per 1.000 rumah tangga, ada tujuh rumah tangga dengan ODGJ. Sementara prevalensi untuk pengidap skizofernia nilainya 5,1. Masih jauh di bawah standar nasional yakni 6,7. Kalimantan Barat justru provinsi dengan pengidap skizofernia tertinggi di Kalimantan dengan prevalensi 7,9. Satu poin di atas standar nasional.
Jaya menambahkan pandemi COVID-19 berperan menyumbang tren kenaikan angka penyakit mental. Dimana 65 persen alami kecemasan, 62 persen alami depresi dan 75 persen mengidap trauma.

“Yang dirawat di sini orang dengan emosi tinggi, sering was-was atau khawatir berlebih, ada juga yang gerd. Padahal mereka sehat namun otak mereka selalu merespon diri mereka sakit,” beber Jaya. Perawatan yang diberikan adalah terapi dan konsul.
Trennya malah naik setahun terakhir. Menurut klaim Jaya. Peliknya persoalan di era modern sekarang turut bersumbangsih menyumbang calon orang dengan penyakit mental. Apalagi setiap semua orang memiliki kekebalan mental berbeda. Ada yang kuat, ada juga yang rentan. “Salah satu orang dengan kematangan mental adalah bisa kendalikan emosi. Ketahanan mental ini harus dibangun di awal kehidupan,” ulasnya. (boy)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular