31.3 C
Samarinda
Jumat, September 30, 2022
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ekraf Butuh Kreatifitas Unik, Mentalitas Kuat, Hilirisasi dan Digitalisasi

SAMARINDA – Sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19, Produk pelaku ekonomi kreatif diharapkan dapat kembali tumbuh sekaligus mendukung gerakan bangga buatan Indonesia yang dicanangkan oleh pemerintah.

Harus diakui, kendala utama pengembangan produk ekonomi kreatif adalah dana dan pemasaran. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim Muhammad Faisal mengatakan persoalan klasik itu bisa disiasati dengan meningkatkan kreatifitas secara unik dan merubah mindset dan orientasi pelaku ekonomi kreatif di Kalimantan Timur dengan mentalitas kuat, hilirisasi dan digitalisasi.

“Sesuai namanya kreatif, maka pelaku ekonomi kreatif harus lebih kreatif, ciptakan nilai tambah, perbedaan produk dengan yang lainnya, tumbuhkan keunikan pada produk,” beber Faisal saat menjadi narasumber pada Talkshow Gekrafs Corner garapan DPW Gerakan Ekonomi Kreatif (Gekrafs) Kaltim, di mall City Centum Samarinda, Jumat lalu.

Bersama dengan Fitriansyah – Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kaltim serta Aji Mirza Hakim – Ketua DPW Gekrafs Kaltim, ketiganya membahas tema mengenai “Bangkit Ekrafs Indonesia”

Ditambahkan, selain kreatifitas dan keunikan produk, saat ini dunia perdagangan sudah memasuki era hilirisasi dan digitalisasi, maka pelaku ekonomi kreatif di Kalimantan Timur harus bisa mengikuti perkembangan zaman dengan merubah mindset dan orientasi produksi menuju hilirisasi dan digitalisasi.

Faisal juga mengungkapkan dari sisi pemasaran pun harus digarap pelaku ekonomi kreatif di Kaltim melalui jualan secara digital, sampai sistem pembayaran digital juga harus dipenuhi jika ingin terus berkembang sesuai perkembangan dunia digital saat ini.

Maaih pada momen yang sama, Fitriansyah mengungkapkan rekomendasi riset atau kajian terkait pengembangan ekonomi kreatif di Kalimantan Timur yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kaltim.

“Ada tiga kota/Kabupaten yang menonjol perkembangan pelaku ekonomi kreatif yakni Samarinda dengan kuliner dan musik, Balikpapan dengan digitalisasi dan kuliner kemudian Tenggarong Kutai Kartanegara dengan perfilman dan seni budaya,” sebutnya.

Ia juga membeberkan beberapa poin yang harus menjadi perhatian bersama. Pertama, membangun Sumber Daya Manusia. Pelaku ekonomi kreatif harus ditingkatkan pengetahuan dan pengalamannya melalui pendidikan dan pelatihan guna meningkatkan kreativitas sehingga uniquely product menjadi pembeda kreativitas.

Selanjutnya, mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif (ekraf), Keterhubungan sistem yang mendukung rantai nilai Ekonomi Kreatif, yaitu kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan konservasi, yang dilakukan oleh Pelaku Ekonomi Kreatif untuk memberikan nilai tambah pada produknya sehingga berdaya saing tinggi, mudah diakses, dan terlindungi secara hukum.

kemudian, Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), hak untuk memperoleh perlindungan secara hukum atas kekayaan intelektual, sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang HKI.

“Beberapa bentuk HAKI antara lain hak paten, merek, desain industri, hak cipta, indikasi geografis, rahasia dagang, dan desain tata letak sirkuit terpadu (DTLST),” rincinya.

Setelahnya, membangun komunitas kreatif, pemerintah telah membentuk Dewan Ekonomi Kreatif. Ada 17 sub sektor ekonomi kreatif seperti kuliner, kriya, musik, fesyen, aplikasi, seni rupa, TV dan radio, penerbitan, design interior, pertunjukan seni, fotografi, film animasi dan video, Periklanan, arsitektur, permainan interaktif, desain komunikasi visual, dan desain produk.

“Setiap subsektor sangat direkomendasikan untuk membentuk komunitas termasuk bergabung di Gekrafs Kaltim dalam rangka pembinaan dan pengembangan product,” ucap Fitriansyah.

Ada juga, pendanaan insentif pemerintah & CSR perusahaan swasta, pemerintah dan sektor swasta perlu memberikan insentif. Tujuannya adalah mempermudah pelaku usaha dalam mengembangkan kegiatannya.

“Insentif yang diberikan antara lain berupa Perlindungan produk. Dana pengembangan. Fasilitas pemasaran. Pertumbuhan pasar domestik dan internasional. Mendapatkan informasi tren dalam negeri dan luar negeri. Penyediaan sarana dan prasarana,” paparnya.

“Terakhir, menciptakan ruang publik ekonomi kreatif akan meningkatkan daya saing dan nilai tambah pelaku ekonomi kreatif termasuk akan meningkatkan promosi produk ekonomi kreatif,” kata Fitriansyah.

Sementara itu Ketua DPW Gekrafs Kaltim Aji Mirza Hakim menyampaikan kehadiran event Gekrafs Corner adalah upaya Gekrafs Kaltim dalam mengembangkan potensi pelaku ekonomi kreatif di Kaltim.

“Diharapkan dengan event ini akan menambah pengetahuan dan pengalaman pelaku ekonomi kreatif bahkan calon pelaku ekonomi kreatif seperti pelajar dan mahasiswa yang mengikuti event Gekrafs Corner,” ujar Icha sapaan akrab mantan bassis jikustik ini. (kmf/adv/diskominfokaltim)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular