28.3 C
Samarinda
Senin, November 28, 2022
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Bentuk Tim Pendamping Kasus Pelecehan Mahasiswi Fahutan, Ini yang Akan Dilakukan Fahukum Unmul

SAMARINDA – Kasus dugaan pelecehan terhadap mahasiswi Fahutan Unmul kini berbuntut panjang. Pihak kampus mulai menyusun tim untuk menangani kasus tersebut.

Kasus ini sendiri bermula saat seorang mahasiswi merasa dilecehkan oleh oknum dosen Fahutan sebanyak tiga kali karena alasan memudahkan bimbingan skripsi. Kejadian yang dialami korban di antaranya memijat oknum selama dua jam, terjadi pada 12 Juni 2021 dan 22 Februari 2022.

Kejadian berikutnya oknum dosen mengelus pipi korban, memintanya membuka dan memasangkan kaos kaki. Bahkan si dosen meluruskan kaki ke atas paha korban. Kejadiannya terjadi April lalu.

Mendengar kabar itu pihak kampus pun mengambil tindakan dengan menonaktifkan sementara oknum dosen. Selain itu berkoordinasi dengan Fakultas Hukum untuk memberikan advokasi atau pendampingan kepada korban. Fahukum pun menunjuk Warkhatun Najidah sebagai ketua tim pendampingan bagi pelaku.

Saat dikonfirmasi, Najidah belum bisa menjelaskan secara gamblang penanganan kasus ini karena belum bertemu dengan korban. “Ini masih pembahasan di tingkat dekan Fahukum dan Fahutan. Kalau saya tinggal tunggu arahan dari dekan sebagai komandan saya, jadi sekarang belum ada bertemu dengan si korban,” katanya, Sabtu (30/4/2022).

Najidah pun membeber apa yang biasanya dilakukan oleh tim pendamping setiap menangani sebuah kasus. Tim pendamping akan menguatkan mental korban agar rasa malunya bisa hilang perlahan. Setelah itu mendengarkan langsung keterangan dari korban. Meski pun yang bersangkutan sudah membuat laporan, namun keterangan langsung katanya jauh lebih akurat.

Biasanya dari situ akan muncul dialog dan diskusi antara tim dengan tim. Sebagai contoh saat Najidah menjadi pendamping kasus seorang ibu yang anaknya meninggal di lubang tambang. Awalnya si ibu lantang bersuara tidak terima anaknya meninggal dan meminta penegakan hukum yang adil. Tapi di tengah perjalanan, mental si ibu mulai goyah karena didatangi oleh oknum-oknum tertentu.
Langkah berikutnya tim akan berikan pengertian ke semua orang untuk berikan support atau dukungan kepada korban. Termasuk dukungan agar si korban mau bersuara.
“Lalu disterilkan dari akses yang akan mengganggu penyelesaian kasus, seperti intervensi berbagai pihak, kemudian faktor lingkungan yang tidak mendukung korban untuk menjadi kuat,” tambahnya.

Fahukum pun tidak bekerja sendiri. Para psikolog dari Fakultas Psikologi Unmul juga dilibatkan.
“Psikolog pasti bilang, anak ini bisa semangat, ketakutan, traumatik dan lain-lain. Jadi treatment nya ke setiap orang beda-beda,” imbuhnya.

Pembagian tugas pun tidak hanya pada korban melainkan juga pada si terduga pelaku. Artinya baik korban atau pun pelaku, masing-masing akan ada orang yang mendampingi untuk mendengar keterangan.

“Bagi tugas, korban dan pelaku karena kita juga tidak tahu apakah nanti si pelaku akan lakukan tindakan balasan atau tidak,” tutupnya. (boy)

 

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular