Penulis: Zulkifli | Editor: Intoniswan | Adv Diskominfo Kukar

Tenggarong.UpdateKaltim.com – Keberadaan lumbung pangan masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) diharapkan menjadi salah satu penyangga ketersediaan beras sekaligus menjaga kestabilan harga di tingkat masyarakat.
Melalui pengelolaan stok yang terus berputar, lumbung pangan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan, tetapi juga menjadi sarana distribusi beras ketika terjadi kenaikan harga maupun gangguan pasokan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kukar, Ananias, mengatakan pemerintah daerah telah memiliki 35 lumbung pangan yang tersebar di sejumlah wilayah sentra produksi padi. Seperti, seperti Tenggarong, Tenggarong Seberang, Loa Kulu, Sebulu, Muara Kaman, Marangkayu, dan Anggana.
“Jadi, tidak hanya kita simpan begitu saja, tetapi ada sirkulasi. Mereka tetap menjual, kemudian menyerap lagi gabah dari petani supaya stoknya selalu segar,” ujar Ananias di Tenggarong, Kamis (29/10/2026).
Dijelaskan Ananias, pengelolaan lumbung pangan dilakukan dengan sistem perputaran stok. Beras yang tersimpan tidak dibiarkan terlalu lama, melainkan dipasarkan kembali dan kemudian diikuti penyerapan gabah dari petani. Pola ini dilakukan untuk menjaga kualitas persediaan sekaligus memastikan ketersediaan beras tetap terjaga.
“Karena stok terus mengalami perputaran, jumlah beras yang tersedia tidak selalu sama. Ketika persediaan terjual, pengelola kembali menyerap gabah dari petani untuk diolah menjadi beras dan dipasarkan kepada masyarakat,” jelasnya.
Kapasitas penyimpanan setiap lumbung pangan berbeda-beda. Dalam pola pengelolaan yang berjalan, stok yang disiapkan pemerintah daerah umumnya berkisar maksimal 20 hingga 50 ton.
Ananias berharap mekanisme tersebut dapat membantu menjaga pasokan pangan ketika terjadi kondisi yang memengaruhi harga beras. Terlebih, pada situasi kekeringan atau gangguan produksi, harga beras di pasaran berpeluang mengalami kenaikan sehingga keberadaan stok di tingkat desa menjadi penting.
Ia menegaskan, lumbung pangan harus mengutamakan pemenuhan kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing sebelum mendistribusikan beras ke luar desa. Dengan begitu, keberadaan cadangan pangan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.
“Kalau misalnya dalam kondisi beras mahal, usahakan lumbung pangan mencukupi dulu kebutuhan desanya. Kalau untuk desanya belum cukup, jangan dulu menjual ke Samarinda. Harapannya seperti itu, penuhi dulu kebutuhan di desa tersebut,” tegasnya.
Selain menjaga ketersediaan beras, lumbung pangan juga memiliki peran dalam membantu petani memperoleh pasar ketika musim panen. Pengelola diharapkan dapat menyerap gabah dari petani setempat dengan harga yang layak, terutama ketika hasil panen melimpah dan petani membutuhkan pembeli.
Dengan demikian, lumbung pangan memiliki dua fungsi yang saling berkaitan. Saat harga gabah rendah, lembaga tersebut dapat menjadi pembeli hasil panen petani. Sementara ketika harga beras meningkat, persediaan yang dimiliki dapat dijual kembali kepada masyarakat dengan harga mengikuti mekanisme pasar.
Diterangkan Ananias, untuk pengelola lumbung tersebut, dilakukan melalui Lembaga Lumbung Pangan Masyarakat yang dibentuk dari kelompok tani dan menjadi organisasi berbasis masyarakat.
“Fokus kami lebih kepada bagaimana mengoptimalkan yang sudah ada. Tidak semuanya sudah berjalan optimal. Kita tetap harus membina supaya lumbung itu betul-betul bermanfaat dan manfaatnya bisa kita perluas lagi untuk masyarakat,” tutupnya. (*)












